Our Blog

Raport merah Akidah syiah -bagian 1-

Raport merah Akidah syiah

-bagian 1-

Al-Ustadz Ruwaifi bin Sulaimi, Lc.

“Kaum Syiah berambisi menjatuhkan (harga diri) Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, namun tidak berhasil. Akhirnya, mereka mencela para sahabat beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk mengesankan bahwa beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah orang jahat. …”

Sejak dahulu, kelompok sesat Syiah sangat agresif melakukan makar terselubung terhadap Islam dan umat Islam. Ambisi mereka untuk merobohkan pilar-pilar Islam pun sangat besar.

Kitab Suci al-Qur’an mereka klaim telah mengalami banyak perubahan bahkan pemalsuan.[1] Para istri Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, Ummahatul Mukminin (ibunda kaum mukminin) yang suci, mereka tuduh berbuat zina.[2]

Para sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang mulia mereka vonis kafir.[3]
Sungguh, ini adalah penyimpangan besar dalam kehidupan beragama kaum Syiah, terutama dalam hal akidah.

Al-Imam Malik bin Anas rahimahullah berkata, “Kaum Syiah berambisi menjatuhkan (harga diri) Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, namun tidak berhasil. Akhirnya, mereka mencela para sahabat beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk mengesankan bahwa beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah orang jahat. Sebab, jika beliau orang baik-baik, niscaya para sahabatnya adalah orang-orang yang baik pula.” (ash-Sharimul Maslul ‘ala Syatimir Rasul, Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah, hlm. 580)

Al-Imam Abu Zur’ah ar-Razi rahimahullah berkata, “Jika engkau melihat seseorang mencela salah seorang sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, ketahuilah bahwa ia zindiq (seorang yang menyembunyikan kekafiran). Sebab, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bagi kita adalah haq dan al-Qur’an adalah haq. Yang menyampaikan al-Qur’an dan as-Sunnah (kepada kita) adalah para sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Mereka mencela para saksi kita (para sahabat) demi mengenyahkan al-Qur’an dan as-Sunnah. Mereka lebih pantas untuk dicela. Mereka adalah orang-orang yang menyembunyikan kekafiran.” (al-Kifayah, al-Khathib al-Baghdadi, hlm. 49)

Akidah Syiah penuh dengan “catatan merah”. Beberapa poin akidah mereka pernah dimuat dalam edisi Asy-Syari’ah yang telah lalu.[4]

Di antara akidah Syiah yang menarik untuk dikaji dan dicermati lebih saksama adalah sikap mereka yang sebenarnya terhadap umat Islam (Sunni) yang kerap mereka sebut dengan Nashibi.[5] Hal ini sering luput dari pembahasan atau sengaja dikaburkan, bahkan dikubur, oleh pihak yang getol mengampanyekan persatuan antara Sunni dan Syiah.
Sebagai pendahuluan tentang potret nyata kehidupan kaum Syiah, marilah menyimak persaksian salah seorang (mantan) tokoh besar Syiah, Sayyid Husain al-Musawi berikut ini.

“Masih segar dalam ingatanku, ayahku pernah berjumpa dengan orang asing di salah satu pasar Kota Najef, Irak. Ayahku menyukai kebaikan, sehingga diajaklah orang tersebut ke rumah kami sebagai tamu keluarga malam itu. Kami pun memuliakannya.
Selepas isya, kami duduk begadang menjamunya. Ketika itu, aku seorang pemuda yang baru mengawali belajar di al-Hauzah (pusat pendidikan ilmu agama kaum Syiah). Dari perbincangannya bersama kami, nyatalah bahwa dia seorang Sunni (sebutan untuk selain Syiah) dari Kota Samira yang datang ke Najef karena sebuah keperluan.

Malam itu, dia bermalam di rumah kami. Ketika datang waktu pagi, kami menyajikan makan pagi untuknya dan dia menyantapnya. Seusai makan pagi, dia berpamitan kepada kami. Ayahku menghadiahinya sejumlah uang untuk tambahan bekal dalam perjalanannya. Orang itu sangat berterima kasih atas penghormatan yang kami berikan kepadanya.
Selepas kepergiannya, ayahku memerintahkan agar kasur yang digunakan tidur oleh tamu tersebut dibakar dan peralatan makan yang digunakannya dicuci sebersih-bersihnya.” (Lillahi Tsumma lit Tarikh, hlm. 66)

Mengapa sang ayah memerintahnya demikian?
Sayyid Husain al-Musawi menjelaskan, “Sebab, menurut akidah beliau, Sunni itu najis. Ini adalah akidah orang Syiah secara keseluruhan. Semua ahli fikih kami menyejajarkan Sunni dengan orang kafir, orang musyrik, babi, dan
9:32:06 AM
Menggolongkannya sebagai jenis benda najis.” (Lillahi Tsumma Lit Tarikh, hlm. 66)

:notebook_with_decorative_cover:Catatan kaki :
(1)Disebutkan dalam kitab al-Kafi (yang kedudukannya di sisi mereka seperti Shahih al-Bukhari di sisi umat Islam) karya Abu Ja’far Muhammad bin Ya’qub al-Kulaini 2/634.

Dari Abu Abdillah (Ja’far ash-Shadiq), dia berkata, “Sesungguhnya al-Qur’an yang dibawa Jibril kepada Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam itu (ada) 17.000 ayat.”
Pada 1/239—240 disebutkan dari Abu Abdillah, dia berkata, “Sesungguhnya di sisi kami ada Mushaf Fatimah ‘alaihassalam, mereka tidak tahu apa Mushaf Fatimah itu. Abu Bashir berkata, ‘Apa Mushaf Fatimah itu?’
Dia (Abu Abdillah) berkata, ‘Mushaf yang isinya 3 kali lipat dari yang ada di Mushaf kalian. Demi Allah, tidak ada padanya satu huruf pun dari al-Qur’an kalian’.” (Dinukil dari kitab asy-Syiah wal Qur’an karya Dr. Ihsan Ilahi Zhahir, hlm. 31—32)

Bahkan, salah seorang “ahli hadits” mereka yang bernama Husain bin Muhammad at-Taqi an-Nuri ath-Thabrisi dalam kitabnya Fashlul Khithab fii Itsbati Tahrifi Kitabi Rabbil Arbab mengumpulkan berbagai riwayat dari para imam mereka yang diyakini ma’shum (terjaga dari dosa), bahwa al-Qur’an yang ada di tangan umat Islam itu telah mengalami perubahan dan penyimpangan.

[2] Dalam kitab mereka Ikhtiyar Ma’rifatir Rijal karya ath-Thusi, hlm. 57—60, menukilkan (secara dusta) perkataan sahabat Abdullah bin Abbas radhiallahu ‘anhuma terhadap Ummul Mukminin Aisyah, “Kamu tidak lain adalah seorang pelacur dari sembilan pelacur yang ditinggalkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.” (Dinukil dari kitab Daf’ul Kadzibil Mubin al-Muftara Minarrafidhati ‘ala Ummahatil Mukminin karya Dr. Abdul Qadir Muhammad ‘Atha, hlm. 11)

[3] Dalam kitab mereka Rijalul Kisysyi, hlm. 12—13 dari Abu Ja’far (Muhammad al-Baqir), dia berkata, “Manusia (para sahabat) sepeninggal Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam keadaan murtad kecuali tiga orang.”
Aku (perawi) berkata, “Siapa tiga orang itu?”
Dia (Abu Ja’far) berkata, “Al-Miqdad bin al-Aswad, Abu Dzar al-Ghifari, dan Salman al-Farisi….”
Oleh karena itu, didapati dalam kitab bimbingan doa mereka (Miftahul Jinan, hlm. 114), wirid laknat untuk keduanya,

اللَّهُمَّ صَلِّ عَلىَ مُحَمَّدٍ وَعَلىَ آلِ مُحَمَّدٍ، وَالْعَنْ صَنَمَيْ قُرَيْشٍ وَجِبْتَيْهِمَا وَطَاغُوْتَيْهِمَا وَابْنَتَيْهِمَا
“Ya Allah, semoga shalawat selalu tercurahkan kepada Muhammad dan keluarganya, laknatlah kedua berhala Quraisy (Abu Bakr dan Umar), setan dan thaghut keduanya, serta kedua putri mereka (yang dimaksud adalah Ummul Mukminin Aisyah dan Hafshah)….” (Dinukil dari kitab al-Khuthuth al-‘Aridhah karya as-Sayyid Muhibbuddin al-Khatib, hlm. 18)

[4] Di antaranya pada Majalah Asy-Syari’ah edisi 05, 18, dan 92.

Majalah Islam Assyariah 10 agustus 2015

Salafiyyun Designed by Templateism | MyBloggerLab Copyright © 2014

Gambar tema oleh richcano. Diberdayakan oleh Blogger.