Our Blog

Raport merah Akidah syiah

Raport merah Akidah syiah

-bagian 2-

Al-Ustadz Ruwaifi bin Sulaimi, Lc.

SYIAH MENGAFIRKAN DAN MENGHALALKAN DARAH UMAT ISLAM (SUNNI)

Mengafirkan umat Islam (Sunni) dan menghalalkan darah mereka termasuk prinsip dalam agama Syiah.

Penulis Awailul Maqalat berkata, “Aku katakan bahwa kekafiran Nashibi (baca: Sunni) sungguh termasuk hal prinsip dalam mazhab Syiah. Hal ini sebagaimana ditegaskan oleh al-Mufid dalam kitab al-Muqni’ah dan lainnya. Tidak ada seorang faqih (ahli fikih) pun yang menyelisihi hal ini.” (Awailul Maqalat, hlm. 285)[6]

Dalam kitab al-Hadaiq an-Nadhirah (10/42), disebutkan, “Tidak ada perselisihan di kalangan kawan-kawan kami ridhwanullah ‘alaihim tentang vonis kafir terhadap Nashibi (baca: Sunni), najis, halal darah dan hartanya, dan sama dengan kafir harbi.”[7]
Al-Khau’i, salah seorang rujukan mereka, menegaskan bahwa tidak ada perbedaan antara orang murtad, kafir harbi, kafir dzimmi, dan Nashibi (baca: Sunni). (Minhajus Shalihin 1/116)[8]

Para pembaca yang mulia, prinsip di atas bukanlah hasil kajian dari para tokoh Syiah semata. Akan tetapi, itulah akidah mereka yang dibangun di atas riwayat-riwayat para imam Syiah yang sangat banyak. Hal ini disebutkan oleh al-Jawahiri dalam kitabnya Jawahirul Kalam (41/436) dalam bab “Halalnya Darah Nashibi (baca: Sunni)”.
Di antaranya adalah riwayat dari Dawud bin Farqad, ia berkata, “Aku katakan kepada Abu Abdillah (Ja’far ash-Shadiq) ‘alaihissalam, ‘Apa pendapatmu tentang membunuh Nashibi (baca: Sunni)?’
Beliau menjawab, ‘Halal darahnya, namun aku mengkhawatirkan dirimu. Jika kamu berkesempatan merobohkan dinding hingga menimpanya atau menenggelamkannya ke dalam air, lakukanlah! Semua itu agar tidak ada bukti kuat bahwa kamu membunuhnya.’
Aku pun berkata, ‘Bagaimana dengan hartanya?’
Beliau menjawab, ‘Silakan ambil, selama kamu mampu’.”
Dalam kitab mereka Tahdzibul Ahkam (10/213), disebutkan kisah orang yang mengingkari Abu Bujair—seorang Syiah—karena telah membunuh tujuh orang Sunni. Akhirnya keduanya berhukum kepada Abu Abdillah, imam mereka.
Abu Abdillah ‘alaihissalam berkata, “Bagaimana caramu membunuh mereka, hai Abu Bujair?”
Dia berkata, “Di antara mereka ada yang aku panjat loteng rumahnya dengan menggunakan tangga, kemudian aku membunuhnya. Sebagian ada yang berpapasan denganku di sebuah jalan, lantas aku membunuhnya. Sebagian lagi ada yang aku masuki rumahnya kemudian aku membunuhnya. Semua itu aku lakukan secara senyap, tak ada orang yang mengetahui jejakku.”

Abu Abdillah ‘alaihissalam berkata, “Hai Abu Bujair, wajib bagimu (membayar denda). Untuk setiap orang yang kamu bunuh, (dendanya) satu ekor kambing dan disembelih di Kota Mina, karena kamu melakukannya tanpa izin dari imam (Syiah). Sekiranya kamu membunuh mereka dengan seizin imam, niscaya kamu tidak dikenai denda sama sekali.”
Ni’matullah al-Jazairi—salah seorang ulama mereka—berkomentar tentang riwayat di atas, “Lihatlah denda yang sangat ringan tersebut. Sebuah denda yang lebih rendah daripada denda membunuh ‘adik laki-laki mereka’, yaitu anjing buruan, 25 dirham. Tidak pula menyamai denda membunuh ‘kakak laki-laki mereka’, yaitu Yahudi atau Majusi, 800 dirham. Sungguh, keadaan mereka (Sunni) di dunia ini lebih hina dan rendah.” (al-Anwar an- Nu’maniyyah 2/308)[9]

Betapa murahnya nyawa seorang Sunni di mata kaum Syiah. Dia lebih rendah daripada Yahudi atau Majusi, bahkan lebih rendah daripada seekor anjing buruan.
Demikianlah kaum Syiah. Makar terselubung terus mereka lakukan. Dengan semangat gerilya yang tinggi mereka tebarkan racun-racun akidah di tengah umat. Tampilan bersahaja dan bersahabat, mereka tonjolkan untuk menipu umat. Manakala ada peluang untuk menghabisi Sunni, secepat kilat akan mereka lakukan. Runtuhnya Daulah Abbasiyah di tangan Tartar, hancurnya Kota Baghdad, dan melayangnya jutaan nyawa umat Islam, termasuk sang khalifah kala itu, merupakan salah satu bukti sejarah atas kejahatan dan kesadisan kaum Syiah.[10]
Wallahul Musta’an.

Catatan kaki :
[6] al-Fadhih Li Madzhab asy-Syiah al-Imamiyyah karya Hamid Masuhali al-Idrisi, hlm. 133.
[7] al-Fadhih Li Madzhab asy-Syia
11:21:00 AM
h al-Imamiyyah karya Hamid Masuhali al-Idrisi, hlm. 133.
[8] al-Fadhih Li Madzhab asy-Syiah al-Imamiyyah karya Hamid Masuhali al-Idrisi, hlm. 134.
[9] al-Fadhih Li Madzhab asy-Syiah al-Imamiyyah, hlm. 136.
[10] Anda bisa membaca Kajian Utama edisi ini. Untuk lebih rinci, silakan baca al-Bidayah wan Nihayah karya al-Imam Ibnu Katsir (13/200—211), Tarikhul Islam wa Wafayatul Masyahir wal A’lam karya al-Imam adz-Dzahabi (48/33—40), dan Tarikhul Khulafa’ karya al-Imam as-Suyuthi (hlm. 325—335).

Majalah Islam Asy Syariah 10 Agustus 2015

Salafiyyun Designed by Templateism | MyBloggerLab Copyright © 2014

Gambar tema oleh richcano. Diberdayakan oleh Blogger.