Our Blog

“Bantahan terhadap Syubhat Pendapat yang Menyatakan Adanya Bid’ah Hasanah (Subhat ke 2)

  “Bantahan terhadap Syubhat Pendapat yang Menyatakan Adanya Bid’ah Hasanah”

Syubhat Kedua

Pemahaman mereka yang salah terhadap perkataan ‘Umar bin al-Khaththab radhiallahu ‘anhu ,“Sebaik-baik bid’ah adalah ini (tarawih berjamaah).”

Bantahan

 1.   Anggaplah kita terima dalalah (pendalilan) ucapan beliau seperti yang mereka maukan bahwa bid’ah itu ada yang baik. Namun sesungguhnya, kita kaum muslimin mempunyai satu pedoman; kita tidak boleh mempertentangkan sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan pendapat siapa pun juga (selain beliau). Tidak dibenarkan kita membenturkan sabda beliau dengan ucapan Abu Bakr, meskipun dia adalah orang terbaik di umat ini sesudah Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, atau dengan perkataan ‘Umar bin al-Khaththab radhiallahu ‘anhu, ataupun yang lainnya.

Firman Allah ‘azza wa jalla:
رُّسُلٗا مُّبَشِّرِينَ وَمُنذِرِينَ لِئَلَّا يَكُونَ لِلنَّاسِ عَلَى ٱللَّهِ حُجَّةُۢ بَعۡدَ ٱلرُّسُلِۚ

“(Kami mengutus mereka) sebagai rasul-rasul pemberi berita gembira dan pemberi peringatan agar supaya tidak ada alasan bagi manusia membantah Allah sesudah diutusnya para rasul itu.” (an-Nisa’: 165)

Sehingga tidak tersisa lagi bagi manusia satu alasan pun untuk membantah Allah subhanahu wa ta’ala dengan telah diutusnya para rasul ini. Merekalah yang telah menjelaskan urusan agama mereka serta apa yang diridhai oleh Allah subhanahu wa ta’ala. Merekalah hujjah Allah subhanahu wa ta’ala terhadap kita manusia, bukan selain mereka.
يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ لَا تُقَدِّمُواْ بَيۡنَ يَدَيِ ٱللَّهِ وَرَسُولِهِۦۖ وَٱتَّقُواْ ٱللَّهَۚ إِنَّ ٱللَّهَ سَمِيعٌ عَلِيمٞ ١

“Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mendahului Allah dan Rasul-Nya, dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (al-Hujurat: 1)

Asy-Syaikh ‘Abdurrahman as-Sa’di rahimahullah (secara ringkas) mengatakan, “Ayat ini mengajarkan kepada kita bagaimana beradab terhadap Allah subhanahu wa ta’ala dan Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam. Hendaknya kita berjalan (berbuat dan beramal) mengikuti perintah Allah subhanahu wa ta’ala dan Sunnah Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam, jangan mendahului Allah subhanahu wa ta’ala dan Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam segenap urusan. Inilah tanda-tanda kebahagiaan dunia dan akhirat.”

Ibnu ‘Abbas radhiallahu ‘anhuma mengatakan, “Hampir-hampir kalian ditimpa hujan batu dari langit. Aku katakan, ‘Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda demikian… demikian’, (tapi) kalian mengatakan, ‘Kata Abu Bakr dan ‘Umar begini… begini…’.”

‘Umar bin ‘Abdul ‘Aziz rahimahullah mengatakan, “Tidak ada (hak) berpendapat bagi siapa pun dengan (adanya) sunnah yang telah ditetapkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.”

Al-Imam asy-Syafi’i rahimahullah mengatakan, “Kaum muslimin telah sepakat bahwa barang siapa yang telah jelas baginya sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, tidak halal baginya untuk meninggalkan sunnah itu karena pendapat (pemikiran) seseorang.”

Al-Imam Ahmad bin Hanbal rahimahullah mengatakan, “Barang siapa yang menolak hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, berarti dia (sedang) berada di tepi jurang kehancuran.”

2.   Bahwa ‘Umar radhiallahu ‘anhu mengatakan kalimat ini tatkala beliau mengumpulkan kaum muslimin untuk shalat tarawih berjamaah. Padahal shalat tarawih berjamaah ini bukanlah suatu bid’ah. Bahkan perbuatan tersebut termasuk sunnah dengan dalil yang diriwayatkan oleh ‘Aisyah radhiallahu ‘anha, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pada suatu malam shalat di masjid, kemudian orang-orang mengikuti beliau. Besoknya, jumlah mereka semakin banyak. Setelah itu malam berikutnya (ketiga atau keempat) mereka berkumpul (menunggu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam). Namun beliau tidak keluar. Pada pagi harinya, beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

قَدْ رَأَيْتُ الَّذِي صَنَعْتُمْ، وَلَمْ يَمْنَعْنِي مِنَ الْخُرُوْجِ إِلَيْكُمْ إِلاَّ أَنِّي خَشِيْتُ أَنْ تُفْرَضَ عَلَيْكُمْ

“Aku telah melihat apa yang kalian lakukan. Dan tidak ada yang menghalangiku untuk keluar (shalat bersama kalian) kecuali kekhawatiran (kalau-kalau) nanti (shalat ini) diwajibkan atas kalian.” (Sahih, HR. al-Bukhari no. 1129)

Secara tegas beliau menyatakan di sini alasan mengapa beliau meninggalkan shalat tarawih berjamaah. Maka tatkala ‘Umar radhiallahu ‘anhu melihat alasan ini (kekhawatiran Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam) sudah tidak ada lagi, beliau menghidupkan kembali shalat tarawih berjamaah ini. Dengan demikian, jelaslah bahwa tindakan khalifah ‘Umar radhiallahu ‘anhu ini mempunyai landasan yang kuat yaitu perbuatan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sendiri.

Jadi jelas bahwa bid’ah yang dimaksudkan oleh ‘Umar bin al-Khaththab radhiallahu ‘anhu adalah bid’ah dalam pengertian secara bahasa, bukan menurut istilah syariat. Dan jelas pula tidak mungkin ‘Umar berani melanggar atau menentang sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang telah menyatakan bahwa semua bid’ah itu sesat.

Ditulis oleh al-Ustadz Abu Muhammad Harits

Https://telegram.me/salafiyyun

Salafiyyun Designed by Templateism | MyBloggerLab Copyright © 2014

Gambar tema oleh richcano. Diberdayakan oleh Blogger.