Our Blog

KAJIAN TAUHID Dari kitab: Tsalatsatul Ushul (pertemuan ke 12)



KAJIAN TAUHID
Pertemuan ke-12

Dari kitab:
Tsalatsatul Ushul
(=Tiga Landasan Utama)

Penulis:
Asy-Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab رحمه الله تعالى
Syarah/penjelasan oleh:
Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin رحمه الله


بسم الله الرحمن الرحيم
:الحمدلله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى اله وصحبه ومن والاه، أما بعد



Saudaraku seiman, semoga rahmat Allah dilimpahkan untukku dan untuk kalian semua. Amin.

Pekan yang lalu kita telah selesai mengkaji DALIL QS. Al-Ashr: 1-3.

Berikut ini kita kaji perkataan Al-Imam Asy-Syafi'i رحمه الله تعالى tentang keagungan Surah Al-Ashr tersebut.


:قَالَ الشَّافِعِيُّ رحمه الله تعالى
لَوْ مَا أًنْزَلَ اللَّهُ حُجَّةً عَلَى خَلْقِهِ إِلاَّ هَذِهِ السُّوْرَةَ لَكَفَتْهُمْ



Berkata Al-Imam Asy-Syafi'i رحمه الله تعالى,

"Seandainya Allah tidak menurunkan hujjah untuk makhluk-Nya kecuali hanya surat ini, maka sungguh (surah) ini sudah cukup bagi mereka."

SYARAH/PENJELASAN:


Al-Imam Asy-Syafi'i رحمه اللّٰه beliau adalah Abu Abdillah Muhammad bin Idris bin Al-Abbas bin Utsman bin Syafi'i Al-Hasyimi Al-Qurasyi.

Beliau dilahirkan di Ghazah pada tahun 150 H dan wafat  di Mesir pada tahun 204 H.

Beliau adalah salah seorang dari empat imam madzhab fiqih - semoga rahmat Allah ta'ala terlimpahkan atas mereka semua -

Maksud ucapan Al-Imam Asy-Syafi'i yakni:

Bahwa surat (Al-Ashr) tersebut sudah cukup bagi manusia untuk mendorong mereka dalam berpegang teguh kepada agama Allah dengan cara:


beriman,
beramal shalih,
berdakwah untuk agama Allah, dan
bersabar atas semua itu.


Dan bukanlah maksud beliau, bahwa surat ini saja telah cukup bagi manusia dalam menjelaskan seluruh syariat.

Ucapan Al-Imam Asy-Syafi'i رحمه الله,  "Seandainya Allah tidak menurunkan hujjah (dalil) untuk makhluk-Nya kecuali surat ini, niscaya surat ini sudah cukup untuk mereka."

Yakni maksudnya:

Seorang yang berakal dan memiliki pandangan yang sehat, jika dia mendengarkan surat ini atau membacanya, maka dia pasti akan berusaha melepaskan diri dari golongan yang merugi tersebut.

Dan hal itu bisa dicapai dengan berusaha memiliki empat sifat tersebut, yakni:


BERIMAN
BERAMAL SHALIH
BERDAKWAH, SALING BERWASIAT DI DALAM KEBENARAN, DAN
BERSABAR, BERWASIAT DENGAN SABAR.


(Selesai syarah)

Kita kembali kepada matan kitab:


:_وَقَالَ الْبُخَارِيُّ _رحمه الله
.بَابٌ اَلْعَلْمُ قَبْلَ الْقَوْلِ وَالْعَمَلِ
:وَالدَّلِيْلُ قَوْلُهُ تَعَالَى 
.{فَاعْلَمْ أَنَّهُ لَآ إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَاسْتَغْفِرْ لِذَنْبِكَ}


Dan berkata Al-Imam Al-Bukhari -رحمه الله- : "Bab Ilmu Sebelum Ucapan dan Perbuatan"

Dalilnya firman Allah ta'ala:
"Maka ketahuilah, bahwa tidak ada sesembahan (yang haq) kecuali Allah dan mohonlah ampunan atas dosamu."  (QS. Muhammad: 19)

SYARAH/PENJELASAN:

Al-Imam Al-Bukhari, beliau adalah: Abu Abdillah Muhammad bin Ismail bin Ibrahim bin Al-Mughirah Al-Bukhari.

Beliau dilahirkan di daerah Bukhara pada bulan Syawwal tahun 194 H.
Beliau tumbuh dalam keadaan yatim dalam asuhan ibunya.
Beliau wafat di Khartank, suatu negri yang berjarak dua farsakh dari Samarkand pada malam 'Idul Fithri tahun 256 H.

Al-Imam Al-Bukhari رحمه الله menggunakan dalil dengan ayat tersebut mengenai kewajiban memulai dengan ilmu terlebih dahulu sebelum berkata dan berbuat.

Ini merupakan dalil atsar (yakni berdasarkan periwayatan)  yang menunjukkan bahwa manusia hendaknya:

✔️ 1. Memiliki ilmu dahulu,
     baru kemudian,
✔️ 2. Beramal sebagai langkah yang kedua.

Ada pula dalil aqli (berdasarkan akal) yang menunjukkan bahwa:
ILMU DAHULU, SEBELUM BERKATA DAN BERAMAL.

Hal itu karena ucapan dan perbuatan tidak SAH dan tidak diterima sehingga mencocoki/sesuai syariat, dan seseorang tidak mengetahui bahwa amal perbuatannya mencocoki syariat kecuali dengan ILMU.

Akan tetapi ada beberapa hal yang manusia bisa mengetahuinya secara FITHRAH (sebagaimana dalam hadits bahwa manusia dilahirkan dalam keadaan FITHRAH, pen.) seperti:

Mengetahui bahwa Allah adalah satu-satunya إلٰهٌ (Ilah/sesembahan).
Karena sesungguhnya pengetahuan tentang hal itu telah menjadi FITHRAH seorang hamba, oleh karena itu tidak perlu bersusah payah dalam mempelajarinya.
Adapun masalah-masalah yang lebih detail dan terperinci, inilah yang membutuhkan usaha untuk mempelajarinya, dan ketekunan dan kesungguhan dalam belajar.

Bersambung, in sya Allah


Diterjemahkan oleh Al-Ustadzah Ummu Abdillah Zainab bintu Ali Bahmid hafizhahallah pada Kamis, 18 Rabi'ul Awal 1437 H / 28 Januari 2016

 Sumber: annisaa.salafymalangraya.or.id


Salafiyyun Designed by Templateism | MyBloggerLab Copyright © 2014

Gambar tema oleh richcano. Diberdayakan oleh Blogger.